Rabu, 19 Oktober 2016

Alif : Aku ingin kakiku bisa mengantarkanku & Ayah Bundaku ke Surga....

Alif : Aku ingin kakiku bisa mengantarkanku & Ayah Bundaku ke Surga....

" Seorang yang berjalan ke masjid, maka tiap langkah kakinya akan diberikan satu pahala, dihapuskan satu dosa, dan dinaikkan satu derajat oleh Allah SWT."
(Ibnu Majah:277,Muslim:1068 dan 1065).



Namanya Alif.....usianya baru 8 atau 9 tahun.  Alif kecil sering terlihat di masjid saat maghrib, isya dan subuh.  Abu Raihan sering bertemu dengan Alif di ujung gang dekat masjid saat Subuh menjelang.  Biasanya di antar bundanya.  Suatu hari saat selesai maghrib, Abu Raihan punya kesempatan untuk bercengkerama dengan Alif kecil di serambi masjid.
" Sayang....sini duduk sama om....namanya siapa?"
" Alif om "
" Alif tinggal dimana?"
" Di gang sebelah masjid "
" Baru di sini ya..."
" Iya om.....Alif baru pindah dari Padang "
" Ooo...pantes om baru lihat.  Biasanya di antar Bunda ya kalau Subuh.  Ayah kemana?"
Alif diam sejenak......matanya berkaca seraya memandang ke taman masjid.
" Ayah Alif sudah meninggal om....3 bulan yang lalu, makanya Alif pindah ke sini "
" Oh...maaf..."
" Makanya om....Alif harus rajin ke masjid, biar bisa mendoakan ayah agar masuk syurga.  Alif ingin kaki Alif bisa menjadfi saksi untuk mengantarkan Alif ke Syurga.....juga bisa mendoakan ayah & bunda masuk syurga juga "
Abu Raihan terdiam......
Kalimat terakhir dari Alif kecil sangat menghujam di hati......

Jika kaki ini ga mampu mengantarkan ke masjid.....bagaimana bisa kaki ini mengantarkan ke surga ??
Abu Raihan bisa menghitung jamaah aktif yang biasa di masjid......tak lebih dari 3 shaf itu pun sudah sama anak-anak.  Orang muslim yang tinggalnya di sekitar masjid pun masih banyak yang enggan berjamaah.  Bahkan pengurus masjid jua masih bayak yang meninggakan berjamaah.  Bukankah seharusnya pengurus masjidlah yang ada di shaff depan dalam berjamaah.  Pengurus masjidlah yang semestinya hadir lebih awal dalam setiap acara-acara masjid.  Karena pengurus masjid adalah jamaah inti.  Bagaimana mau memakmurkan masjid dan mengajak berjamaah warganya kalau pengurusnya saja malas ke masjid.  Dan itu adalah prolema setiap masjid.
Soal keilmuan......mereka bukan orang-orang yang bodoh, bahkan dari pengurus masjid banyak yang berlatar belakang sekolah agama/ pondok.
Jadi soal keutamaan sholat berjamaah sudah tahu.  Shalat jama’ah memiliki keutamaan dibanding shalat sendirian dengan selisih 27 derajat sebagaimana sering kita dengar. Inilah keutamaan shalat jama’ah tersebut. Disamping itu, orang yang menunggu shalat di masjid juga akan mendapat pahala dan do’a malaikat. Begitu pula ketika seseorang sudah berjalan dari rumahnya menuju masjid, itu pun sudah dihitung pahalanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ

خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ

اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

“Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari no. 477 dan Muslim no. 649).

Nah sekarang adalah masalah implementasi dari ilmu tersebut.  Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah.  Amal tanpa ilmu bisa tersesat.
Yok ke Masjid.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar