Minggu, 18 Januari 2015

Bunda Sarah: Kenangan itu.....

Bunda Sarah: Kenangan itu.....


Sebenarnya namanya Hesti, namun orang-orang biasanya memanggilnya bunda Sarah. Sarah adalah anak semata wayangnya.  Sering temen2 & tetangganya menanyakan kapan Sarah punya adik, cuma dijawab : nanti kalau Sarah sudah sekolah (TK).  Tahun depan Sarah sudah masuk SD, namun belum ada tanda2 Sarah mau punya adik.
  
Bunda Sarah (Hesti) adalah wanita berpendidikan walau akhirnya memilih mengurus rumah tangga setelah menikah.  Suaminya punya posisi penting dikantornya. Dengan rumah tipe 45/125 berlantai 2, 2 motor & sebuah Camry nongkrong di garasinya.  Secara materi keluarga muda ini berkecukupan.
 
 Belakangan ini raut bunda Sarah tidak secerah biasanya.  Juga terdengar bisik2 dari temen2 & tetangganya, bunda Sarah suka pinjam uang.  Apa uang dari suaminya ga cukup? Untuk apa uang tersebut. Dia hanya bilang kalau uang tersebut untuk membantu orang tuanya yg sedang sakit.  Kalau demikian mengapa ga ngomong sama pasanganya atau menyisihkan blanja yg diterima nya dari suami.
  
Ternyata ada yg menggelayut dihatinya, soal keluarganya di kampung.  Masih terpantri dalam ingatan bunda Sarah kecil saat orang tuanya pisah/cerai. Bunda Sarah Cuma 2 bersaudara, dia & adik perempuannya.  Semasa kecil diasuh oleh budenya dari bapak, disekolahkan sampai perguruan tinggi.  Kedua ortunya masing2 sudah menikah lagi.  Dari bapaknya ada 5 adik tiri, dari pernikahan ibunya ga punya anak.
 
 Entah apa penyebab keretakan perkawinan ortunya, bunda Sarah kecil tidak memahaminya saat itu. Yg dia ingat adalah pertengkaran2 setiap hari dirumahnya.  Tidak pagi, siang ataupun malam.  Rumah sudah bagai neraka.  Entah apa juga yg disampaikan budenya ke bunda Sarah saat itu, sehingga bunda Sarah begitu membenci ibunya.......hingga saat ini.
  
Saat ini bunda aktif mengikuti ta’lim, namun itu belum bisa melembutkan hatinya agar bisa menerima ibunya dg baik.  Dendam ke ibunya masih tersisa.  Pernah ibunya sakit keras, saudara2nya meminta dia pulang begitupun temen2 & tetangganya, bahkan suaminya pun mengajak menengok ibunya.  Namun bunda bersikukuh tidak pulang apalagi mendapat support dari budenya di kampung. Apa salah ibunya?  Bunda Sarah sudah menganggap budenya menjadi ibu.  Siapa yg mengasuh, membesarkan & menyekolahkan aku dulu....semuanya bude, begitu yg selalu dia katakan.  Saat idul fitri-pulang kampung-pun bunda tidak bersilaturahim ke rumah ibunya, padahal dia nginap di budenya (sebagai basecamp-nya saat mudik), juga berkunjung ke rumah bapaknya.  Padahal semuanya sekampung.  Ironis.
  
Suatu hari ibunya datang berkunjung ke Jakarta, siang itu bunda Sarah sedang duduk2 di taman dekat rumahnya bersama tetangganya.  Begitu ibunya datang & masuk rumah,dia tidak keluar2 rumah sampai keesokan harinya dan Sarah pun baru masuk menjelang Maghrib, tidak seperti  biasanya. Kalau sore sudah harus mandi, makan baru boleh main lagi. Sepatutnya saat neneknya datang, anak kita panggil untuk salaman & cium tangan sebagai bentuk penghormatan ke ortu.  Setelah itu silakan main kembali.  Ini tidak!  Apa salah ibunya sampai bunda Sarah memeperlakukannya seperti itu?  Bukankah Rosulullah mengajarkan untuk menghormati ibu kita sampai Rosul mengulang 3x baru setelah itu bapak, ortu yg wajib kita hormati. Berkata ” ah” saja ke ortu tidak boleh.  Pasti itu sudah seringkali didengar & diajarkan dalam ta’lim2nya.  Namun itu belum meluluhkan sikapnya.
  
Sore itu gerimis, bunda Sarah memandang ke langit saat duduk diteras atas seolah-olah menerawang masa kecilnya.  Ada rahasia yg dipendamnya dari semua orang....bahkan dari pendamping yg dicintainya.

Seandainya..........bunda Sarah mau berbagi agar resah hatinya bisa lebih lega & kekerasan sikapnya bisa lebih lembut.  Mungkin dg suaminya atau orang yg dipercayainya agar bisa menjaga amanah masalah ini, agar hati bisa dilembutkan & sikap dapat diluruskan.  Karna saat kebengkokan sudah demikian keras akan lebih sulit untuk diluruskan kalau  salah malah bisa patah.  Setidaknya harus memulai....sebelum terlambat.  Itu yg harus & wajib dilakukan bunda Sarah, Hesti Sulistiowati. Wallahua’lam.  (061209)
   

Kamis, 15 Januari 2015

Nakalnya Orang Tua

Nakalnya Orang Tua



Orang mungkin bosan banget kalau ngomongin kenakalan remaja/anak-anak. Tapi, kita jarang dengar & ada orang yang ngomongin kenakalan orang tua. Padahal, kalau mau dirunut lumayan banyak juga kenakalan ortu & memang sangat berpengaruh kepada kehidupan anak-anak. Kenakalan orang tua ini bisa diperluas bukan hanya orang tua di rumah alias keluarga kita. Tapi orang tua di masyarakat seperti guru di sekolah, orang dewasa di lingkungan sekitar, orang dewasa yang bisa kita lihat tampilan wajah dan aksinya di TV, orang dewasa yang saban hari kita temui di sekolah kehidupan kita, termasuk dalam hal ini adalah para orang tua yang menjadi pejabat di negeri ini.

Betapa kita suka lupa bahwa kenakalan remaja ga bisa lepas juga dari teladan yang sudah ada. Maka ga ada salahnya  kalau kita nyentil dikit kenakalan orang tua., semoga saja ini bisa mengingatkan para ortu yang sudah dan akan mewarnai kehidupan kita saat ini. Ortu di rumah, ortu di masyarakat, dan tentunya ortu yang bertugas sebagai pengurus negara dan rakyat. Semua itu adalah ortu kita yang seharusnya menjadi teladan yang baik buat kita dalam menjalani kehidupan ini.

Itu sebabnya, jangan sampai remaja saja yang kebetulan berbuat nakal. Sebab, kita yakin bahwa kenakalan remaja juga ada pemicunya. Kenakalan remaja ga muncul dengan sendirinya. Bisa karena lemahnya pendidikan ortunya di rumah, bisa juga karena kedodorannya pengawasan ortu di masyarakat, bahkan sangat mungkin karena lemahnya tanggung jawab ortu yang mengurus negara dengan tak memberikan penerapan aturan dan sanksi yang tegas dan benar

Kenakalan orang tua dalam ikatan keluarga

1.  Akhlak.
Wallahu’alam, apakah karena terlalu sibuk atau ga ngerti harus berbuat, banyak ortu di rumah yang abai dalam soal akhlak Islam yang baik ini. Padahal, anak  akan belajar pertama kali dari cara ortu, karena begitu dekatnya jarak antara anak dengan ortu. Misalnya, kelakuan ortu yang doyan berantem sama tetangga atau yang kasuk-kusuk ngomongin tetangga, tak jarang terjadi adu mulut sampai adu otot.  Duh, padahal kita diminta berbuat baik, kita juga dilarang mengganggu tetangga kita. Nabi saw. bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR Muslim)

2.  Mengabaikan pelaksanaan syariat.
Urusan sholat misalnya. Kalau ortunya aja sholatnya sesukanya atau bahkan ga sama sekali, akan menimbulkan dampak bagi anak. Apalagi jika menyuruh atau mengingatkan anaknya u/ sholat saja ga pernah. Wah, mungkin ga adil juga kalo di kemudian hari nyalahin anak yang ga sholat. Wong, orang tuanya saja ga sholat dan ga membimbing anaknya untuk sholat. Kasihan juga kan?

3.  Kasih sayang dan perhatian.
Bila anak tumbuh menjadi liar, keras, pendendam, dan tidak punya sikap penyayang. Tentu tidak muncul begitu saja. Para orang tua yang merekayasa semuanya.
Maka tidak ada ‘horor’ yang lebih menakutkan bagi anak-anak selain kehilangan kasih sayang. James Coleman, dalam Abnormal Psychology and Modern Life, menyebut kekurangan kasih sayang sebagai communicable disease (penyakit menular). Karena itu Islam sebagai agama yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin mewajibkan orang tua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka kepada keluarganya. “Orang yang paling baik di antara kamu ialah yang paling penyayang kepada keluarganya,” kata Rasulullah saw. Bahkan Allah Swt. berfirman:
“Bertakwalah kamu kepada Allah tempat kamu saling memohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga.” (QS an-Nisa’ [4]: 1)
Suatu ketika Luqmanul Hakim bercakap-cakap dengan anaknya. “Wahai ayah, apa yang terbaik bagi manusia?”
“Agama,” jawab Luqman.
“Kalau dua?”
“Agama dan harta.”
“Kalau tiga?”
“Agama, harta dan rasa malu.”
“Bila empat?”
“Agama, harta, rasa malu dan akhlak yang mulia.”
“Jika lima?”
Agama, harta, rasa malu, dan akhlak yang mulia dan dermawan.”
Anaknya bertanya lagi, “Jika enam?”
Luqman menjawab, “Anakku, jika yang lima itu berkumpul pada diri seorang hamba maka dia adalah orang yang bertakwa, dan Allah akan menolong orang yang menjauhi syetan.”
Rasulullah saw. bersabda, “Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR al-Bukhari)

Kenakalan orang tua di masyarakat

1.  Menciptakan suasana yang ga produktif.
Misalnya memelihara rasa malas.. Bapak-bapak kalo mereka berdua, selain ngobrol bisa juga main catur. Kalo berempat, malah ada kemungkinan main gaple. Bisa juga karaoke.  Seringnya sih begitu. Terutama kalo malam hari  Main catur dan  gaple ada yang bilang boleh aja kalau ga pakai duit alias judi. Cuma ga muru’ah aja, ga menjaga kehormatan diri . Maklumlah, orang yang kerjanya cuma gaple aja tiap malam dicap orang pangedulan alias tukang malas (idih, malas ada tukangnya juga ya?).

2. Menyediakan sarana kemaksiatan.
Ada warga masyarakat yang secara terang-terangan jual minuman keras., berbagai merek dan jumlahnya sangat banyak. Tiap malam pasti ada pesta minuman keras. So, aksi para pemabuk jadi pemandangan yang biasa dilihat setiap malam. Kebanyakan pemabuk adalah remaja. Yang buka warung itu siapa? Orang dewasa. Ya, orang tua  di masyarakat. Yang seharusnya ikut menjaga dan mendidik anak-anak remaja. Bukan menjejali ABG dan remaja dengan minuman keras.
Selain miras, kita juga udah pada apal kalo judi kini udah membudaya. Mulai dari judi togel, sabung ayam, pacuan kuda, taruhan di pertandingan sepakbola, gaple yang pake duit, rolet, casino, sampe judi via fasilitas pengiriman SMS. Waduh, itu sudah jadi tradisi yang berurat berakar. Kalo mo ditelusuri, tentu mereka yang jadi bandar judi adalah para orang tua. Ya, orang tua di masyarakat yang seharusnya menjadi pelindung dan memberikan teladan yang benar dan baik, khususnya bagi anak muda. Ternyata mereka malah memfasilitasi sarana kemaksiatan dan tentunya mencontohkan kenakalan. Menyedihkan banget.

3. Membudayakan malas belajar.
Contohnya nih, ibu-ibu yang aktif di pengajian lebih sedikit ketimbang mereka yang atas nama olahraga mengelar senam bersama dengan pakaian yang tentu saja mengumbar aurat. Ini umumnya lho, kalo yang nggak mengumbar aurat ya jangan ngambek. Belum yg membuka PS (Play Station), yg membuat anak2 ketagihan jadi game mania, akibatnya anak lupa sholat, malas makan, belajar bahkan ada yg malas sekolah.  Yg punya PS siapa? Ya…orang tua di masyarakat.  Padahal, kalau pengajian digalakan, keterampilan ttt (seperti menjahit, memasak, menulis, dsb) yang bisa dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan terus diajarkan, ada wadah remaja yg positif (abis semua pos, pos RT,RW bahkan posyandu sudah diisi oleh orang dewasa, dimana remaja mau ngepos u/ mengekspresikan talent-nya??), rasanya ga ada  yang terus memelihara rasa malasnya untuk belajar. Tul nggak?

4. Pendidik yang abai.
Mungkin kedengaran aneh ada pendidik yang abai terhadap murid atau santrinya. Tapi memang benar-benar ada dan hal ini kerap terjadi. Ada oknum guru yang mengajarkan asusila kepada murid-muridnya, ada ustadz di pesantren yang nggak konsisten menerapkan disiplin. Faktanya, kalau sempat baca berita ada oknum guru yang melakukan pelecehan seksual kepada muridnya, ada oknum ustadz di pesantren yang melarang santrinya untuk merokok, tapi dianya sendiri ‘ngebul’ terus saban hari, bahkan dengan atraktif memajang bungkus rokoknya di jendela dan lubang-lubang angin di atas pintu kamarnya. Duilee.. yang begini ini bisa memicu kenakalan anak didiknya. Mengkhawatir banget kan!!

Kenakalan orang tua di pemerintahan

Kenakalan ortu di pemerintahan dampaknya bisa lebih luas. Bahayanya bisa lebih besar. Sebab, gimana jadinya kalau pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung bagi rakyatnya justru malah mencontohkan kenakalan, efeknya jadi global  Bentuk kenakalan pemerintah: Melanggengkan kemaksiatan. Jika kenakalan ortu di masyarakat cuma menyediakan sarana kemaksiatan, maka negara (dalam hal ini pemerintah) malah melanggengkan kemaksiatan. Karena apa? Karena sudah kasih banyak izin untuk usaha-usaha pelacuran, diskotik, pabrik minuman keras, dan jenis kemaksiatan lainnya. Termasuk menutup mata terhadap problem-problem yang diakibatkan usaha pelacuran, diskotik, peredaran minuman keras dan narkoba, perjudian, dan sejenisnya. Ini adalah bentuk kenakalan ortu di pemerintahan yang sangat membahayakan.  Dengan kekuatannya sebagai pengelola negara, seharusnya para orang tua yang jadi pejabat bisa memberikan teladan yang benar dan baik. Tapi, yg ada rakyat cuma korban kenakalan yang dilakuan pemerintah yang rata-rata udah pada berumur itu (kalo dilihat dari usia, lho) Iya kan? So, jangan cuma nyalahin remaja dengan melabeli “kenakalan” ketika ada remaja yang nyandu judi, nyandu miras dan hobi mengkonsumsi narkoba, atau jadi pelacur dan sejenisnya. Karena mereka lebih banyak sebagai korban akibat kenakalan yang dilakukan oleh para orang tua di pemerintahan.

Wahai para orang tua, dengarlah …
Tolong dong jangan salahkan remaja terus. Seolah yang salah tuh remaja, yang selalu nakal tuh pasti remaja. Padahal, kami adalah korban dari kondisi yang ada saat ini. Banyak ortu di rumah yang kurang peduli, kurang menyayangi kami, dan nggak serius mengarahkan kami ke jalan yang benar. Memang nggak semua dari ortu di rumah itu nakal, tapi sayangnya ortu yang baik tuh kalah jumlahnya dengan ortu yang nakal.

Begitupun dengan para ortu di masyarakat, mohon dengarlah keluhan remaja. Sudah begitu banyak masalah yang ditimbulkan akibat kenakalan para orang tua di masyarakat yang seharusnya menjadi pilar kedua dalam penegakan hukum. Tapi, mereka malah menyediakan sarana kemaksiatan, menciptakan budaya yang nggak produktif, dan membiasakan malas belajar serta mendidik yang setengah hati. Belum lagi para orang tua di masyarakat yang menjadi pemilik media massa (baik cetak maupun elektronik: koran, majalah, tabloid, radio, televisi, dan juga internet) yang ‘hobi’ menampilkan bacaan, gambar dan tontonan yang merusak akhlak (pornografi, kekerasan, dan seks bebas) yang berlindung atas nama bisnis. Duh, tolong jangan salahkan remaja secara mutlak akibat kenakalan ortu di masyarakat ini. Remaja sudah cukup menderita.

Juga kepada para ortu di pemerintahan, yakni ortu yang menjadi pejabat negara. Seharusnya ini adalah pilar paling kuat dalam penegakan hukum, tapi nyatanya malah ikut-ikutan nakal. Padahal kenakalan yang dilakukannya berdampak lebih besar bagi seluruh rakyat. Wahai para pejabat negara, dengarlah kesedihan kami akibat kenakalan yang bapak-ibu lakukan dengan menerapkan aturan kehidupan yang nggak benar dan nggak baik, yakni Kapitalisme-Sekularisme (termasuk juga Sosialisme-Komunisme & Neoliberalisme). Karena yang benar adalah Islam. Pasti.

Meski yang kita sorot adalah kenakalan orang tua, tapi bukan berarti sebagai remaja  mengampuni diri sendiri dengan menimpakan semuanya kepada kalangan orang tua, karena kita juga wajib belajar dan wajib menjadi benar dan baik dalam hidup ini. Mari kita terus berjuang mengingatkan para orang tua di rumah, di masyarakat, dan ortu di pemerintahan untuk nggak nakal lagi. Juga remajanya. Yuk, perbaiki diri kita dan jangan ikut-ikutan nakal. So, mari bina diri kita dengan cara mengkaji Islam dengan lebih semangat dan lebih serius lagi. Semoga ini menjadi renungan bagi kita semua.
(Dari berbagai sumber & fakta).

Sabtu, 10 Januari 2015

NABILA : Apa yang kau cari ??

NABILA : Apa yang kau cari ??

 


    Di sebuah café Metropolitan Mall, Bekasi, seorang lelaki sedang menikmati kesendiriannya.  Dihirupnya Capucinno perlahan.  Sore begitu cerah, baru saja dia menyelesaikan meeting dg klien kakapnya di Hotel Horison.  Sekarang sedang rileks sebentar sambil mengatur agenda untuk dinner nanti malam dg klien yg lain.  Sebagai pengusaha yg cukup sukses, hampir seluruh perhatiannya tersita tuntas buat pekerjaannya.  Dia tergolong workoholic.
    Diseberang mejanya, tiga ABG dg juicenya,  memperhatikan diam-diam.  Lelaki itu tak tahu kalau sedang diperhatikan.  Pikirannya hanya focus diplan bisnisnya.  Tiga ABG dg putih abu-abunya terus memperhatikan lelaki itu.  Salah seorang memberanikan diri untuk menegur, “ Sendirian Om?”
    “ Oh iya..” jawab lelaki itu  seraya menatap remaja di depannya.
    “ Nama saya Santi, itu temen-temenku, Ranti dan Emma”
    “ Baru pulang sekolah?”
    “ Iya om”
    Santi, Ranti dan Emma, tiga remaja SMA yg bersahabatan.  Selepas pulang sekolah mereka tidak langsung ke rumah.  Dihabiskan waktunya untuk hangout bersama, bada maghrib baru mereka pulang.
    Santi anak seorang pejabat yg sibuk, paling cepat selepas Isya ayahnya baru sampai di rumah bahkan kadang sampai tengah malam.  Ibunya pun tak kalah sibuk dg aktivitas sosialitanya, arisan, kegiatan PKK dll. Praktis hanya waktu sarapan mereka bisa kumpul bareng, itupun kalau beruntung.  Santi anak kedua, kakaknya sudah kuliah di luar kota, sehingga dia hanya ditemani pembantunya di rumah.  Sepi sering menerpanya.
    Ranti anak tunggal pengusaha sukses.  Papanya sering tugas luar kota mengerjakan proyek-proyeknya.  Mamanya seorang wanita karir, dg posisi yg bagus.  Ranti tidak terlalu peduli dg  kesibukan kedua ortunya, asal segala kebutuhannya terpenuhi termasuk uang saku untuk hangout bersama temen-temannya. Fasilitas Ranti selalu up to date.  Bukankah mereka juga sibuk dg urusannya sendiri.
    Berbeda dg kedua temanya, Santi dan Ranti, Emma bukanlah dari keluarga kaya.  Bapaknya seorang pedagang, mempunyai kios di pasar yg ditungguin dari pagi sampai malam.  Ibunya sudah lama tiada saat melahirkan adiknya yg  kelima.  Ada saudara jauh bapaknya yg membantu mengasuh adik-adiknya.  Dg delapan orang dalam rumah 36, membuat Emma tidak betah berlama-lama di rumah.  Sehabis sekolah waktunya dihabiskan buat jalan-jalan ke mana saja untuk menghilangkan stresnya.
    Santi, Ranti dan Emma dipertemukan dalam satu sekolah yg sama dan kebutuhan yg sama sehingga membuat mereka cepat akrab satu sama lainnya.  Mereka bersahabat walau dari status ekonomi yg berbeda.
    “ Apa yg kalian lakukan sepulang sekolah?” Tanya lelaki itu seraya mempersilakan ketiga ABG duduk semeja dgnya..
    “ Biasa om, anak muda. Kita cari kesenangan, dari pada bete di rumah”, jawab Ranti sambil melirik kedua temannya.
    “ Kalau mau, Om bisa ajak kami jalan-jalan kemana saja, ke café, hotel atau motel juga bisa.  Tapi kami punya batas-batas, Om.  Hanya sekedar makan minum dan pegang-pegang saja.  Selebihnya tidak boleh “ ujar Santi yg di anggukan kedua temannya juga.
    Lelaki itu kaget & terkejut mendengarnya.  Padahal tampaknya ketiga ABG ini remaja baik-baik. Pakaian dan dandanannya juga tidak seronok. Masih pakai putih abu-abu lengkap dg badge nama sebuah sekolah cukup terkenal di wilayah Bekasi, berarti satu sekolah dg anak gadisnya. Ah…lama sekali ga bercengkrama dg anaknya yg tentu seusia 3 ABG di depannya. 
    “ Kalian lakukan itu semua selepas pulang sekolah?” Tanya lelaki itu.
    “ Apa salahnya Om? Asal saling menyenangkan…..”
    “ Bagaimana dg orang tua kalian?”
    “ Mana mereka tahu Om”
    Lelaki itu terdiam tak berkata apapun, dia hanya heran.  Ini seperti cerita-cerita di sinetron atau novel.
    “  Kalau Om minta yg lebih dari itu, kita ada teman yg bisa dan mau di perlakukan semau yg bawa…asal kita juga diajak jalan-jalan dan makan minum, Om “ kata Emma hati-hati.
    “ Siapa?”
    “ Nabila Om namanya”
    “ Nabila?” ucap lelaki itu lirih, hampir tak terdengar.  Nama yg begitu dikenalnya, namun terasa asing .  Alangkah jauh.jarak dia dg  anaknya itu sekarang, sampai tak diketahui aktivitasnya…….

Jumat, 09 Januari 2015

ALVINO : Berbeda bisa bersatu



ALVINO : Berbeda bisa bersatu



“Assalamu’alaikum Abi….Alvino neh”
“Wa’alaikum salam warahmatulahi wabarakatuh….masuk..masuk!”
Abu Raihan mempersilakan Alvino duduk di teras rumahnya, hari masih sore. Abi demikian Alvino memanggilnya. Abu Raihan adalah mentor di SMAnya pun guru Biologinya.  Beliau adalah sosok guru ideal, minimal dimata Alvino and the gang.  Dibina 3 tahun oleh beliau membuat keakraban seperti dg sahabat, kadang seperti ortunya namun bisa tegas bagai jendral ke prajuritnya. Alvino & temen2nya menyukainya…..bahkan mengidolakan selaku pendidik.  
Sore itu Alvino datang, masih lengkap dg rangsel di punggungnya. Wajahnya masih kusut & berdebu. Dari Jogya langsung ke Merpati 24, rumah gurunya, Abu Raihan.  Tak seperti biasanya, rautnya tegang, matanya merah dan tingkahnya gelisah. 
“ Ada masalah apa? Belum mampir ke rumah ya, pasti ibu sudah kangen tu…” sapa Abu Raihan. Beliau hafal benar dg mantan anak didiknya, walau sudah 7 tahun lebih mereka meninggalkan kota ini.  Namun komunikasi tetap jalan.  Sekarang lebih mudah, ada milis, FB & sms. Setiap tahun ada kumpul bareng saat Idul Fitri, walau mereka sudah menyebar ke kota lain untuk menuntut ilmu.
” Saya lagi pusing neh Bi....BT banget”
” Ya sudah....sana bersih2 dulu, sekalian sholat kalau belum”
” Sholat sih udah. Kok sepi Bi? Raihan & Zahra kemana?” tanya Vino saat masuk ruang tengah mau ke kamar mandi..
” Ummi sama anak2 keluar. Maghrib nanti baru pulang”
  Alvino sudah seperti anaknya, diapun akrab dg Raihan & Zahra.  Raden Alvino Kusuma Hadiningrat, anak tunggal keluarga Kusuma Hadiningrat  bangsawan dari Parahyangan.  Dia adalah salah satu binaanya yg istimewa, kritis, sering punya ide2 cemerlang & mempunyai jiwa pemimpin serta sangat begitu dekat dgnya melebihi ortunya.  Hampir tak ada masalah yg tak diketahui Abu Raihan bahkan untuk hal2 yg pribadi, Alvino begitu terbuka.  Saat dia mau kuliah di Jogya sempat bersitegang dg ibunya yg mengingnkan ke Bandung, dekat dg neneknya.  Tapi Alvino kekeh ingin ke Jawa, biar ada wawasan budaya katanya saat itu.  Abu Raihanlah yg mengakurkannya, sampai Alvino diterima di Elektro-UGM.
” Gimana sudah fresh kan, sini minum teh dulu” 
” Makasih ....Abi tahu aja kalau Vino haus”
” Nah sekarang apa yg membuat Vino BT?”
” Vino lagi bete begete ama guru ngaji yg sekarang. Sebenarnya masalah ini sudah 6 bulan yg lalu tapi saat itu Vino mencoba untuk menyelesaikan sendiri, ya belajar dewasalah. Namun kok makin runyam.” ucap Vino mengawali curhatnya.
” Baguslah biar Vino juga mandiri”
” Sebenarnya saat itu Vino mau curhat, tapi keburu dengar Abi Masuk RS...jadi ya Vino ga mau menambah beban Abi. Enam (6) bulan yg lalu Vino dipindah ngajinya. Ga tahu kenapa, selidik punya selidik ternyata karna Vino menolak calon yg diajukan beliau. Bagi Vino sih ga masalah, malah bisa buat tambah wawasan dg lingkungan baru.  Tapi 2 bulan kemudian Vino ditarik kembali.  Abi tahu kan 3 bulan kemarin Vino ta’aruf dg akhwat. Vino hanya crita dg Abi & Ali, sahabat Vino. Karna ini juga tahap proses sehingga Vino belum ngomong ke temen2 lainnya termasuk ustadz Vino. Baru sebulan yg lalu setelah ada lampu hijau dari sang akhwat Vino lapor ke guru Vino. Tapi justru ini yg jadi masalah. Guru Vino marah karna ga dilibatkan dari awal. Beliau bilang ga mau bertanggungjawab kalau ada apa2 nantinya.  Dan lebih marah lagi saat tahu siapa calon Vino. Beliau akan memboikot pernikahan Vino nantinya”
” Boikot? Emang dia yahudi?” tanya Abu Raihan heran.
” Ya enggak bi....mana ada Yahudi di sini. Dia orang Purbalingga-Jateng.”
” Yahudi itu sifat & karakter, bukan ras. Bukankah dia sudah sesuai kriteria calon istri dalam islam, yaitu agamanya baik.  Terus kenapa mau diboikot?”
” Mungkin karna beda bi..”
”  La kalau sama kan malah haram....sama jenisnya” canda Abi.
” Beda gerakan bi......beda ngajinya.”
” Wah malah bagus itu......bisa menambah wawasan & fastabiqul khoirat”
” Ya itu masalahnya.......Vino juga ga ngerti, apa jodoh kita harus ditentukan oleh guru ngaji kita.  Harus menerima calon dari beliau, walau kita ga suka. Harus menikah dg orang yg satu pengajian. Kasusnya sama dg sahabat Vino , walimahnya diboikot guru & temen2nya karna menikah bukan dg pilihan ustaznya.  Teman grupnya sebenarnya mau datang tapi mereka masih sungkan dg ta’limat gurunya yg akan mengiqob siapa saja yg datang di walimah tersebut..  Akhirmya mereka hanya kirim sms.  Sekarang sahabat Vino vakum ngajinya & benci dg gurunya.  Vino ga pingin seperti itu.”
’ Vino sudah istiharoh  & mencari informasi sebanyak2nya ttg dia kan?”
”  Sudah bi...sesuai saran Abi.  Dan hasilnya Vino mantap dg dia”
” Sudah ngomong dg ibu?”
”Vino baru bilang ingin menikah.  Beliau Cuma berpesan agar calon Vino seiman, baik, cinta sama Vino & keluarga.  Dan menyerahkan sepenuhnya ke Vino. Kalau calonnya bisa membahagiakan Vino & Vino mencintainya. Ibu akan merestuinya, katanya saat itu. Sekarang baru mau bilang  ttg calon Vino”
” Ok-lah kalau begitu.  Kalau ibu sudah merestui & Vino sudah mantap, tunggu apalagi?  Oh iya...punya foto dia?” tanya Abi.
”  Ini bi.....” jawab Vino seraya menyerahkan selembar foto.
” Lo.. semuanya?”
”  Ya enggak lah bi...... masa empat2nya, nanti abi ngiri lagi  Itu akhwat yg pakai gamis biru berkacamata”
” Ooh.....masih jamil-an Rini, calon ke-3 yg kau tolak” canda Abi.
” Tak tahulah....kenapa Vino terpesona dg pandangan pertama, walau hanya di foto.  Tapi bi....saat ta’aruf kemarin aslinya lebih ok. Trus gimana kalau beda ngajinya bi?”
” Ada masalah? ”
” Saat ini sih belum.  Kita sudah tahu semuanya & berusaha untuk komitmen agar bisa bersinergi nantinya. Bekerja sama untuk hal-hal yg disepakati & toleransi untuk hal yg berbeda dalam masalah2 ijtihadiyah. Senior Vino juga ada yg begitu....sampai saat ini kelihatannya ga masalah, malah tambah semangat dalam mengkaji Islam & sering diskusi di rumah.  Vino ingin seperti mereka.”
” Memang ....menurut abi.dalam pernikahan sebaiknya sekufu walau tidak harus.  Namun kalau memang tidak itu bisa diatasi dg komunikasi yg baik & komitmen bersama.  Soal pemahaman keislaman itupun harus dikomunikasikan agar ga terjadi misunderstanding & miskomunikasi.  Selama Allahnya sama, Rosulnya sama & kitabnya sama......Abi pikir ga masalah.  Asal ya itu  komunikasi & komitmen yg baik untuk bisa saling mengisi, membagi kelebihan & menutup kekurangan untuk sama2 menggapai ridho Allah.  Walau ngajinya beda pasti ada titik temu, cari yg sama jangan korek yg beda.  Bismillah aja !”
” Terus masalah dg ustaz Vino gimana?”
” Bicarakan baik2.  Insya Allah beliau bisa memahami.  Kalau enggak.....Vino punya hak untuk pindah mencari guru yg lebih bijak.  Insya Allah masih banyak kok”
” Wah...kalau abi di sana....Vino minta ngaji lagi dg Abi ”
” Ngajilah dg siapa saja.  Saat kita sudah terbentuk dg blue print keislaman yg baik, makin banyak kita ngaji dg berbagai guru dari berbagai kalangan & pemahaman selama masih dalam koridor yg benar, akan menambah wawasan kita & kita akan lebih arif saat memandang suatu masalah.  Ga hanya memandang dari satu sisi/pendapat saja.  Silaturahim kita juga lebih luas. Ukhuwah juga bisa ditingkatkan.  Pendapat kita benar tapi ada kemungkinan mengandung kesalahan, pendapat anda salah namun bisa jadi mengandung kebenaran, begitu kata Imam Syafi’i.  Para Imam walau berbeda pendapat mereka tetap menjalin silarurahim & ukhuwah dg sangat baik, ga secara politis saja.  Bahkan mereka ga merasa malu  atau rendah jika harus memakai hujjah para imam yg lain selama memang hujjah itu lebih kuat dibanding dg pendapatnya sendiri.  Pendapat/hujjah yg kuat itulah hujjahku, begitu pedomana para Imam madzab.  Ini bisa kita teladani”
” Jadi......”
” Ya mantapkan hatimu.... dg memohon petunjuk dari Allah” sahut Abu Raihan.
” Ok deh Bi...... Vino pamit dulu, mau ngomong dg ibu.  Doain semoga semua lancar. Insya Allah tahun ini juga Vino mau mengakhiri masa lajangnya.”
” Amin...”
” Assalamu’alaikum”
” Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh...”
Ditatapnya punggung Alvino yg sudah sampai di halaman depan. Seraya tersenyum Abu Raihan mengenang 10 tahun silam.............

Zidane : We Love U so Much

Zidane : We Love U so Much

  

Tiba-tiba Zidane memegang tangan Umminya sebelum masuk boarding stasiun.
" Maaf ummi......Zidane mau nanya, kenapa Ummi ga pernah nangis saat nganter Zidane di stasiun atau saat mau pulang abis nengok di pondok ummi pun ga meneteskan air mata seperti bunda & umminya temen-temen Zidane.  Ummi hanya tersenyum. Apa Ummi ga sedih & merasa kehilangan Zidane selama mondok??"  Tanya Zidane seraya menunduk.  Plong sudah apa yang selama ini menggayut dibenaknya.  Tiga tahun sudah tanya itu dia simpan. Dulu ia ingin bertanya tapi takut kalau jawabannya akan mematahkan semangatnya.  Zidane khawatir ummi sengaja membuang dirinya di Pondok ini karena kebandelan dan nakalnya serta sering membuat umminya sedih. Jawaban itulah yang sangat Zidane takuti.  Sekarang Zidane sudah siap dengan jawaban Ummi sepahit apapun.

Ummi Zidane tercekat dan menatap lekat putra sulungnya.
" Kakak ingin tahu jawaban ummi? "
" Iya ummi..." angguk Zidane.

Direngkuh dan dipeluknya putra sulungnya erat.......seraya berbisik: " Ummi tidak ingin terlihat sedih di depan kakak, karna akan memberikan aura negatif yang bisa menurunkan semangat kakak di pondok.  Ummi ingin kakak selalu semangat, happy, ceria sehingga aura positif tersebut senantiasa bersama kakak dalam menimba ilmu di pondok ini." jawab ummi Zidane singkat.
" Engkau ga tahu anakku....betapa hati ini terasa ada yang hilang saat pertama kali meninggalkan dirimu di Pondok ini.  Kenapa ummi segera memalingkan muka sesaat setelah memelukdan mencium dirimu.  Ummi ga mau air mata ini menetes di depanmu.  Karena air itu sudah ga terbendung lagi dan akhirnya jatuh bersamaan kendaraan yang membawanya meninggalkan Pondok putra tercintanya.  Itulah alasannya kenapa ummi selalu terlihat tersenyum dan tak ingin lama-lama menatap wajah sulungnya."  batin Umii Zidane.

" Itu dulu Ummi.....sekarang kalau pun ummi meneteskan air mata..Zidane akan tetep semangat untuk menuntaskan menimba ilmu di Pondok.  Mohon doanya slalu ya ummi"

"Iya...mujahidku sayang....tanpa diminta pun ummi senantiasa bermunajat ke Illahi untuk kesuksesan kakak dunia akherat".

Pelukan ummi Zidane makin erat dan jatuhlah air hangat membasahi punggung sulungnya.  Dan Zidane pun merasakan hangatnya air tersebut merayap sampai sumsum tulang belangnya.  Sekarang Zidane makin yakin akan cinta umminya dan berjanji akan membahagiakan orang yang ia cintai terutama umminya.



Jumat, 28 November 2014

Antara Aku, Line dan G Plus (G+)

Antara Aku, Line dan G Plus (G+)


G plus (G+) adalah sosial media yang dimiliki mbah Google.  Sebenarnya aku sudah lama mengenalnya, sejak aku membuat akun email gmail.com.  Karena fasilitas G+ otomatis sudah tersedia.  Namun saat itu belum begitu populer dan terekspoler, masih kalah ngetren sama facebook (FB).  Aku pun memanfaatkannya sekedar buat sosbookmark karena terintegrasi dengan blogger.  Saat ini G+ menjadi sosmed ke-2 terpopuler setelah FB.

Line yang aku tahu adalah salah satu media chatting atau komunikasi seperti Yahoo Messenger (YM), WhattApps (WA) dll.  Aku pun belum banyak memanfaatkan fitur-fitur yang ada.  Aku hanya menggunakan untuk belajar kelas on line G+ yang memanfaatkan media Line.  Awalnya media belajarnya melalului WA.  Tetapi karena membernya makin banyak dan tidak tertampung di WA (yang hanya memfasilitasi max. anggota 50 orang), maka bermigrasilah ke Line.  Yah......akhirnya dirpaksalah  men-dowload aplikasi Line karena buat kepentingan belajar tersebut.  Baik di PC maupun di Android, walau fiturnya berbeda.  Di android lebih kaya fitur untuk memanfaatkan Line.  Tak apalah toh masih gratisan...hehehe....Alhamdulillah....walau masih hanya sebatas buat belajar online secara grup.

Nah....aku belumlah ahli dibidang Internet apalagi Imer-Internet Marketing.  Aku hanyalah seorang pembelajar.  Saat ini adalah era digital, sehingga mau tak mau, suka tak suka harus ikut arus meng-up grade ilmu kalau ga mau ketinggalan zaman.  Apalagi setelah aku terjun ke wirausaha.  Cara konvensional dalam bisnis saat ini akan sangat tertinggal jika kita ga mau belajar on line untuk memasuki era digital.  Era yang mampu menembus seluruh nusantara bahkan dunia.  Inilah yang mengantarkan aku ke grup belajar on line.  Ini grup ke-2 aku setelah BDR (Bisnis dari Rumah).  Di BDR aku pertama kali mengenal dunia internet.  Setelah itu bergabunglah aku di Melek Internet dan belajar G+ on line via Line......Gratis...tis tis.

Sobat yang Mulia....
Belajar di grup ini sangat seru.  Beberapa orang member aku mengenalnya karena memang pernah bertemu dan belajar bareng.  Lainnya ya cuma mengetahui dari grup ini apalagi anggotanya tersebar dari seluruh Nusantara.  Member grup ini di dominasi oleh para wanita khususnya para emak...hehe....sehingga seringkali menjadi ajang curcol....apalagi kalau ada PR yang wajib diselesaikan sebagai salah satu keseriusan para member.  Dan deadline PR tersebut menjadi salah satu kriteria eliminasi......di injure time heuboh deh ala emak-emak....hahaha.....
Kami para pria guanteng seh enjoy ajah...wkwkwk....

Sobat yang di Rahmati Allah.....
Selain kelas on line untuk anggota yang berdomisili di Jabodetabek ada kelas Kopdar (Kopi darat) agar ilmunya lebih tajam lagi.  Dari mulai belajar G+ basic, Advance, SEO dll.  Inilah ajang silaturahim langsung.....dan tentunya lebih seru bin heboh lagi.  Silaturahim memperluas rizqi dan itu benar adanya.
Di grup pembelajar ini selain ajang silaturahim, belajar, informasi jua ajang bisnis.  Di grup ini kita saling VCS (Vote-Commen-Share) untuk postingan kita di G+.  Ini sangat membantu dalam dunia online khusunya untuk SEO-nya.  Walau ada yang bisnisnya sama tidak membuat member iri dan dengki, tapi saling menguatkan.  Toh.....Rizqi tak akan tertukar.  Member di sini ada produsen, distributor & reseller sehingga semuanya saling tukar ajang bisnis.  Dari kita untuk kita dalam bisnis berkah.

Nah.....sobat mulia....
Itu pengalamanku.....bagaimana pengalaman-mu??
Sobat semua..... yok silaturahim follow me ya di G+   : +gunawansetyadi

Line :  Gunawan Setyadi
FB :  https://www.facebook.com/gunawan.setyady
twitter : @GunawanSetyadi2
Hp/WA :  085779400070
PIN  :  7970 F1E3
Bisnis : Gunawan Tour & Travel ( www.pakethargaumrohpromo.com )
Toko OL (ummizakiy-shop.com)

Minggu, 24 Februari 2013

BAIM : IBUKU DIGONDOL WONG


BAIM :  IBUKU  DIGONDOL  WONG




Namanya bagus, Maulana Ibrahim, biasa dipanggil Baim.  Usianya baru 3 tahunan.  Bocah itu duduk di samping Andi di kereta menuju Madiun.
Setiap orang yang melihatnya pasti akan jatuh hati padanya.  Kulitnya putih, matanya “belo” dg bulu mata yang sangat lentik untuk ukuran lelaki seperti ayahnya,  pipinya tembem menggemaskan, apalagi tingkah dan ngomongnya.  Baim bersama ayahnya naik dari Bekasi, sama seperti Andi.   Ayah Baim baru berumur 30-an, cukup ganteng juga dengan perawakan proposional.
Dalam perjalanan di kreta yang cukup nyaman, Baim menjadi hiburan tersendiri. Selain ngomongnya cukup lancar walau masih cedal, Baim juga komunikatif.  Setiap pertanyaan selalu dijawab dengan gaya medok semarangan menggemaskan.  Jika ditawarin makanan akan diterima kalau Baim suka.
Ketika ibu di depan kami menanyakan “ Baim kok cuma sama Ayah, ibunya mana ?”
“ Ibuku digondol wong” jawab Baim dg polosnya.
Ibu itu tertegun, begitupun penumpang yg lain.  Andi melirik Ayahnya.  Ayah Baim tersenyum kecut.
“ Ibunya sudah pergi dengan lelaki lain saat Baim belum genap setahun” sambung Ayah Baim. “ Mungkin ga tahan dg kehidupan ekonomi kami yg saat itu sedang mengalami keterpurukan.  Usaha saya bangkrut.  Ibunya pergi dengan temen chattingnya di dunia maya dan jejaring sosialnya.  Sampai sekarang ga jelas keberadaannya, statusnya pun ngantung.  Sebenarnya saya juga rela kalau dia minta pisah dengan saya.  Saya pinginnya pisah dengan baik-baik, kalau seperti ini kan kasihan Baim.  Tapi sudahlah…..itu masa lalu.  Saya sudah memaafkannya.  Eh..maaf jadi curhat….hehehe…”
“ Nga pingin cari ibu baru untuk Baim mas?” Tanya Andi
“ Hmm…pingin seh, tapi apa ada yang mau sama saya.  Nantilah…kalau Baim sudah gede.  Sekarang saya sedang kosentrasi dengan usaha saya ini.  Biasanya kalau usaha sudah berhasil jodoh akan lebih mudah.  Smoga ga akan jatuh pada lubang yang sama.  Masa lalu menjadi pelajaran bagi saya.”
Andi terdiam.  Pernikahan kalau hanya dilandasi kepentingan materi beginilah akhirnya.  Ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang.